Turkey: Selcuk

Januari 04, 2018

Tiba di kota ini selepas magrib diantar oleh minibus dari Pamukkale pada saat langit telah berbalut senja. Namun, kami masih dapat melihat lingkungan sekeliling yang terdiri dari taman yang rindang dan benteng di atas bukit dari kejauhan dengan samar-samar. Lingkungan tersebut langsung membuat saya menyukai kota ini pada pandangan pertama.
Lingkungan dekat hotel
Penginapan kami disini, Urkmez Hotel, lokasinya di tengah kota yang tidak terlalu ramai dan dekat dengan Otogar serta stasiun. Menurut saya, harga hotel berbanding lurus dengan lokasi yang strategis ini. Hari ini kami tidak sempat kemana-mana selain mencari makan malam yang dekat dengan hotel. Kami direkomendasikan makan pizza di restoran kecil yang ternyata rasanya enak, harganya murah, pemiliknya ramah! How can i not love this city, huh? 

Pizza Turkey
Keesokan harinya kami berencana ke Ephesus yang bahkan jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 15 menit naik mobil. Sebenarnya kita dapat kesana naik minibus dari Otogar, namun pihak hotel menawarkan agar kami naik taksi karena ada 2 tamu hotel lainnya yang juga berencana kesana, oleh karena itu kami menerima tawaran pihak hotel untuk naik taksi dengan biaya 20tl untuk 6 orang. 
Setibanya di Ephesus, supir taksi menawarkan untuk juga mengantarkan ke destinasi yang deket dengan Ephesus, yaitu Virgin Mary dengan biaya tambahan 40 tl, tetapi langsung kami tolak karena keterbatasan waktu. 
Ephesus

Library of Celcus

Ephesus (3)
 
Zaskia (bukan nama sebenarnya) on pose


reruntuhan jilid kesekian
Di Ephesus pun langit sudah mendung seperti saat kita ke Pamukkale. Kami cukup terburu-buru melihat pemandangan di Ephesus agar tidak kehujanan di tengah jalan. Namun ternyata turunnya hujan tidak dapat dihindari, kami terjebak di dalam Ephesus dalam kondisi hujan deras. Tapi kali ini kami sudah mempersiapkan payung dan jaket. Berbekal persiapan yang oke, kami lanjut melihat-lihat dan foto-foto dengan suasana yang lumayan sepi karena yang lainnya berteduh, ahey! Setelah puas berfoto ria lalu kami menuju pintu keluar dan tidak lupa kami membeli souvenir gantungan kunci terlebih dulu sebelum menyesal seperti di Pamukkale.
hujan deras
 Selepas Ephesus kami menuju ke Sirince dengan menggunakan minibus. Rute yang kami tempuh yaitu Ephesus ke otogar lalu lanjut dari otogar ke Sirince. Minibusnya ngetem cukup lama dan akan berangkat setelah ada minibus lainnya yang tiba di lokasi itu. Sampai di otogar kami sempatkan untuk makan siang terlebih dahulu karena perut meronta-ronta. Kami cari tempat makan prasmanan yang ada nasinya dan pake sambal goreng kentang ala ala. Enak meskipun gak seenak makanan di Indonesia.

inside minibus

sambel goreng pake roti

suasana otogar
Dari sini kami lanjut ke Sirince naik minibus yang rapi berjejer di otogar. Perjalanannya sekitar setengah jam, saya sangaaat senang suasana di selcuk dan sekitarnya ini karena homy + vintage. Di daerah penginapan kami masih banyak bangunan tua model benteng jaman Romawi. Perjalanan ke Sirince pun sangat menyenangkan! Mendengar percakapan supir yang sudah tua dengan rekan sebelahnya sepanjang jalan sambil menikmati pemandangan pepohonan dengan kontur yang berbukit bukit membuat kami terbuai melupakan segala rumitnya hidup. Hail to this place! Tiba di Sirince, kami disuguhi dengan jalan menanjak yang merupakan market disana. Di kiri dan kanan jalan dipenuhi toko-toko yang kebanyakan menjajakan produk hasil olahan desa tersebut. Sebut saja olive oil dan derivatifnya yang sudah diolah menjadi sabun, body lotion shampo dan lainnya. Selain itu Sirince juga terkenal sebagai desa penghasil wine, yang mana kami tidak melirik produk tersebut. Kenapa gak penghasil susu sapi aja sik biar kami bisa beli jugaa.
kerajinan tangan ala Sirince

mami penjual jus delima


perumahan di Sirince
Meskipun dipadati oleh toko-toko namun tidak membuat Sirince kehilangan keasriannya karena daerahnya masih terasa rindang dengan banyaknya pepohonan disekitarnya, udaranya pun sangat sejuk. Disini merupakan tempat dengan harga magnet yang paling murah karena kami menemukan magnet yang dijual dengan harga 5 TL untuk 4 buah. Buat yang suka koleksi gelang dan aksesoris kulit ataupun sejenisnya, disini banyak dijual dengan harga cukup murah. You better pick ur fav one to home. Setelah berkeliling, kami berniat mampir ke resto Artemis. Kenapa Artemis? Karena berdasarkan browsing kilat yang saya lakukan mengatakan bahwa pemandangan dari resto itu cukup bagus. Kami berkeliling sampai ujung lalu berputar dan jalan lagi ke tempat yang semakin sepi mengikuti perunjuk dari beberapa orang yang kami tanyakan. Setelah itu akhirnya kami menemukannya, tempatnya cukup eksklusif dan luas. Kami yakin dan percaya namun tidak mengimani bahwa resto itu harganya mahal. Dan ternyata pelayannya tampangnya sangar kayak satpam komplek. Jadi kami berniat foto2 dulu didepan resto dengan latar belakang desa dengan rumah bertingkat yang menarik hati. Baru sebentar beraksi, kami sudah didatangi oleh satpam itu dan dari gesturnya dia berniat mengusir kami jika tidak makan di resto tersebut. Karena kodenya sudah terbaca kami, maka kami buru2 duduk cari tempat dan minta menu. Trus setelah berpikir panjaaang, kami akhirnya memesan air mineral (mahal kan??) dan 1 pizza ukuran kecil buat ber 4. Saya sih cukup puas ya ngeliat satpam itu bermuka gondok ngeliat kami pesen hanya itu saja, haha!!

part of artemis restaurant


Setelah puas foto-foto dan bersiap pulang ke hotel, kami berusaha bertanya orang sekitar untuk mencari pangkalan minibus. Dan ternyata dekat saja sodara-sodara! Kami tidak menyangka ternyata letak Artemis berada di dekat tempat kami turun dari mnibus, hehehe.
Setibanya di area hotel, kami kembali berkeliling berjalan kaki untuk melihat kehidupan sosial di Turki. Kami jalan ke stasiun, masjid, toko dan taman bermain. Sungguh suasana yang hangat berada disana melihat aktivitas penduduknya. Seringnya kami berkomunikasi dengan anak kecil yang lucu-lucu, tentunya dengan bahasa tubuh karena yang mengerti bahasa Indonesia disana tidak terlalu banyak.





Disinilah akhir petualangan kami di Selcuk karena keesokan harinya kami harus berangkat ke Bodrum naik minibus di pagi hari.

"You will never understand the true meaning of live until you travel and experience how others are living theirs"

You Might Also Like

0 komentar

Instagram